Utusan PBB Siap Redakan Ketegangan di Semenanjung… Hot News

Hot News

PYONGYANG – Kepala Organisasi Politik PBB menyatakan kesediaannya untuk mengurangi ketegangan di semenanjung Korea saat berkunjung ke Korea Utara (Korut) minggu ini. Demikian laporan media pemerintah di tengah meningkatnya perang kata-kata mengenai program rudal dan nuklir Korut.

Korut juga mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh kantor berita resminya, KCNA, bahwa utusan PBB mengakui dampak negatif dari sanksi terhadap bantuan kemanusiaan ke rezim Pyongyang.

Jeffrey Feltman, pejabat tingkat tinggi PBB pertama yang mengunjungi Korut sejak 2012, tidak berbicara dengan wartawan saat tiba kembali dari Pyongyang di bandara Beijing pada Sabtu pagi.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan keprihatinannya atas situasi yang meningkat di Semenanjung Korea dan menyatakan kesediaannya untuk bekerja dalam mengurangi ketegangan di semenanjung Korea sesuai dengan Piagam PBB yang didasarkan pada perdamaian dan keamanan internasional,” seperti disitir Reuters dari KCNA, Minggu (10/12/2017).

KCNA mengatakan pejabat Korut dan Feltman sepakat bahwa kunjungannya membantu memperdalam pemahaman dan bahwa mereka sepakat untuk berkomunikasi secara teratur.

Korut sedang mengejar program senjata nuklir dan rudal yang menentang sanksi PBB dan menuai kecaman internasional.

Pada 29 November, Korut menguji coba rudal balistik antar benua yang menurutnya paling canggih, yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat (AS). Sepekan setelah uji coba itu, AS dan Korea Selatan (Korsel) melakukan latihan militer skala besar minggu ini, yang menurut Korut telah membuat pecahnya perang adalah sebuah fakta yang tidak bisa dihindari.

Uji coba rudal bulan lalu mendorong peringatan AS bahwa kepemimpinan Korut akan benar-benar hancur jika perang harus dilancarkan. Pentagon telah berulang kali unjuk kekuatan setelah Korut melakukan uji coba.

Korut sendiri secara teratur mengancam untuk menghancurkan Korsel dan AS serta mengatakan bahwa program persenjataannya diperlukan untuk melawan agresi AS. AS telah menempatkan 28.500 tentara di Korsel, sebuah warisan dari Perang Korea 1950-53.

(ian)

sumber berita