Aksi Pemberontakan Terkait Status Yerusalem, Tentara Israel Tewaskan Seorang Demonstran : Okezone News Hot News

Hot News



GAZA – Pengakuan Amerika Serikat (AS) bahwa Yerusalem adalah ibu kota Isarel mengakibatkan berbagai aksi pemberontakan. Seorang pria asal Palestina tewas di tangan tentara Israel di Jalur Gaza saat demonstrasi yang dikenal sebagai demonstrasi “Hari Kemarahan” tengah digelar.

Korban yang bernama Mahmoud al-Masry (30) ditembak dari belakang dan terbunuh di wilayah timur Khan Younis. Kementerian Kesehatan Palestina sebelumnya juga mengonfirmasi bahwa terdapat dua orang tewas saat demonstrasi tersebut.

Dilansir dari The New Arab, Sabtu (9/12/2017), Bulan Sabit Merah melaporkan bahwa lebih dari 200 orang terluka di seluruh Palestina, di mana 110 korban luka luka-luka berada di daerah dekat tempat Masry meninggal.

BACA JUGA: Balas Serangan Roket dari Gaza, Israel Kerahkan Pesawat dan Tank

Sebelumnya pemimpin kelompok Hamas Palestina, Ismail Haniya, menyerukan sebuah pemberontakan baru Palestina sebagai pembalasan atas tindakan Pemerintah AS. Dalam pidatonya, Haniya menyampaikan kepada orang-orang Palestina, Otoritas Palestina, dan seluruh Negara Arab dimulainya intifadah (perlawanan) baru, yang akan dimulai pada Jumat 8 Desember.

Pasukan Israel pun menanggapi para demonstran dengan kekerasan. Mereka menembakkan gas air mata, peluru karet, dan peluru udara untuk menekan gangguan publik.

Sebelumnya pada pada Kamis 7 Desember, Militer Israel mengumumkan meluncurkan masing-masing satu unit pesawat dan kendaraan lapis baja untuk menyerang dua pos milik kelompok militan di Jalur Gaza, Palestina. Tindakan tersebut dilakukan setelah tiga buah roket diluncurkan ke arah Israel.

Suara sirine meraung-raung di sejumlah lokasi di Israel sepanjang karena situasi tegang menyusul demonstrasi massal di Gaza dan Tepi Barat.

BACA JUGA: Peluk Abbas, Raja Yordania Nyatakan Dukungan bagi Palestina

Sekadar diketahui, langkah AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, menimbulkan kegemparan tak hanya rakyat Palestina, namun masyarakat dunia. Salah satu pemimpin dunia yang sangat mengecam hal tersebut adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

“Trump! Yerusalem adalah garis merah bagi umat Islam,” tegas Presiden Erdogan dalam sebuah pidato di televisi, menggemakan alarm yang diungkapkan oleh para pemimpin Palestina dan Arab.

Dalam pidatonya, Erdogan memperingatkan bahwa setiap langkah untuk mendukung Israel ke kota tersebut akan memobilisasi seluruh dunia Islam. Erdogan juga mengancam akan memutuskan hubungan diplomatik Ankara dengan Israel.

Turki akan mengadakan pertemuan puncak pimpinan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada di Istanbul untuk membahas keputusan Trump. Selain itu, Kerajaan Arab Saudi juga mengutuk keputusan tersebut sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. Protes pun juga terjadi secara global terhadap keputusan Trump di Pakistan, Afghanistan, Iran, Turki, Malaysia, Indonesia, Mesir, dan Yordania.

(pai)

(rfa)

sumber berita